Antusiasme Warga Jelang Pilkada 2024 di Sulbar

Antusiasme Warga Jelang Pilkada 2024 di Sulbar

Persentase Suara Pilkada Gubernur Sulawesi Barat Tahun 2017

amCharts 4
Persentase Suara Pilkada Sulawesi Barat Tahun 201738.76%38%23.24%100%Chart created using amCharts library


Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) merupakan provinsi hasil pemekaran dari Sulawesi Selatan yang memiliki potensi sumber daya alam yang besar di sektor pertanian, kehutanan dan perikanan. Sulbar memiliki 6 kabupaten, yaitu Majene, Mamasa, Mamuju, Mamuju Tengah, Pasangkayu dan Polewali Mandar. Wilayah ini juga strategis karena merupakan pintu gerbang yang menghubungkan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah.

Pemilihan gubernur secara langsung pertama kalinya pada tahun 2006, disambut dingin warga. Data yang dilansir Pengawas Pilkada Sulbar menyebutkan, sekitar 40 persen dari 655.900 pemilih terdaftar tidak menggunakan hak pilihnya, sebagian akibat tidak mendapat kartu pemilih dan undangan. Meski tingkat partisipasi warga sangat rendah, proses pilkada itu sendiri secara umum berjalan lancar. Anwar Adnan Saleh yang berpasangan dengan Muhammad Amri Sanusi, unggul atas dua calon lainnya, yaitu Salim Mengga-Hatta Dai dan Hasyim Manggabarani-Arifuddin Hatta, dengan perolehan 220.076 suara (45,7 persen). Anwar Adnan Saleh yang didukung Partai Golkar ini ikut berperan dalam pemekaran Sulbar menjadi provinsi sendiri. Anwar yang tahun 2004 menjadi anggota DPR RI, menjadi Ketua Panitia Kerja Pembentukan Provinsi Sulbar yang ikut bergerilya melobi agar secepatnya provinsi baru itu terbentuk.

Pada Pilkada Gubernur 2011, Anwar Adnan Saleh kembali menjadi Gubernur Sulbar, dengan pasangannya Aladin S Mengga. Pasangan nomor urut dua ini unggul dengan perolehan 296.633 suara (48,93 persen), pasangan ini didukung oleh Partai Golkar, PDI-P, Demokrat, Hanura, PKS, dan PKPB. Sedangkan Ali Baal Masdar dan Tashan yang bernomor urut tiga meraih 198.679 suara (32,77 persen). Sementara pasangan nomor urut satu yakni Salim S Mengga dan Jawas Gani di posisi ketiga dengan 110.905 suara. Tingkat partisipasi warga Sulbar pada pilkada ini sebesar 66,33 persen.

Pada Pilkada Gubernur 2017, yang merupakan pilkada serentak se-Indonesia, pasangan Ali Baal Masdar dan Enny Anggraeny Anwar yang bernomor urut tiga, unggul tipis dengan 244.803 suara atau 38,76 persen. Pasangan ini didukung gabungan Partai Gerindra, PKB, Nasdem, PAN, PDI-P, PPP, dan PKPI. Sedangkan Suhardi Duka dan Kalma Katta didukung oleh Demokrat, Hanura dan PKS, dan maju dengan nomor urut satu dan meraih suara 240.055 suara (38 persen). Diperingkat ketiga, pasangan dari Golkar dengan nomor urut dua Salim S Mengga dan Hasanuddin Mashud memperoleh 146.769 suara (23,24 persen).

Pasangan Ali dan Enny unggul di dua kabupaten yakni Mamuju Utara dan Polewali Mandar, dengan perolehan masing-masing 29.521 suara (49,4 persen) dan 104.262 suara (45,5 persen) di wilayah tersebut. Sedangkan Suhardi dan Kalma unggul di empat kabupaten yakni Majene, Mamasa, Mamuju dan Mamuju Tengah. Perolehan Suhardi dan Kalma di 3 kabupaten terakhir mencapai lebih dari 50 persen. Tingkat partisipasi warga cukup tinggi, sebesar 75,7 persen di Pilkada 2017 itu. Ini membuktikan antusiasme warga yang semakin meningkat dibandingkan dengan pilkada-pilkada sebelumnya.

Menjelang pilkada serentak di tahun 2024 ini, beberapa nama lama kembali digadang-gadang akan diusung sebagai calon gubernur provinsi Sulbar ini. Ali Baal Masdar, Enny Anggraeny, Andi Ibrahim Masdar, Muhammad Idrid, Kalma Katta, Suhardi Duka, adalah beberapa nama yang mencuat di bursa calon gubernur yang masih digodok di internal masing-masing partai pendukungnya. Warga pun antusias menanti siapa-siapa saja yang akan menjadi calon gubernur pada Pilgub 2024 ini.

Siapapun pemimpin Sulbar kedepannya nanti, harapannya perekonomian terus berputar, kesenjangan sosial semakin berkurang  dan kesejahteraan masyarakatnya semakin meningkat. (Litbang Kompas/SNT)

  1. Penggunaan materi wajib mencantumkan kredit dengan format: ‘Kompas/Nama Penulis’.
  2. Materi tidak boleh digunakan sebagai sarana/materi kegiatan atau tindakan yang melanggar norma hukum, sosial, SARA, dan mengandung unsur pelecehan/ pornografi/ pornoaksi/ diskriminasi.
  3. Data/informasi yang tertera pada materi valid pada waktu dipublikasikan pertama kali, jika ada perubahan atau pembaruan materi oleh sumber di luar Kompas bukan tanggungjawab Kompas.
  4. Pelanggan tidak boleh mengubah, memperbanyak, mengalihwujudkan, memindahtangankan, memperjual-belikan materi tanpa persetujuan dari Kompas.

Suggestion