Menjaga Resolusi Tahun Baru

Menjaga Resolusi Tahun Baru

Jendela

KOMPAS edisi 5 Januari 2022

Halaman: B

Penulis: M Zaid Wahyudi

Menjaga Resolusi Tahun Baru

Menjaga Resolusi Tahun Baru

Tahun 2022 telah tiba. Apa resolusimu di tahun baru ini? Apa masih meneruskan resolusi tahun 2021 yang tidak tercapai? Atau malah masih mengulang resolusi di tahun 2020 yang tidak sempat terlaksana gara-gara pandemi Covid-19?

Resolusi memang bisa dilakukan kapan saja, tak perlu menunggu datangnya tahun baru. Kapan pun kita mau dan ingin berubah, maka resolusi bisa dilakukan. Akan tetapi, resolusi akan lebih mudah dibuat jika berbarengan dengan momentum tertentu seperti tahun baru.

Seperti dikutip dari Livescience, 31 Desember 2017, tradisi membuat resolusi sebagai suatu keinginan untuk melakukan hal baru muncul berulang dalam masyarakat Barat. Tahun 1740, pendiri Metodistme, John Wesley, membuat jenis kebaktian baru yang diadakan pada malam tahun baru. Kebaktian ini untuk merenungkan tahun yang sudah berlalu dan memperbarui perjanjian dengan Tuhan.

Tradisi ini memiliki akar dari bangsa Babilonia sekitar 4.000 tahun yang lalu. Saat itu, mereka merayakan pergantian tahun baru pada bulan Maret bersamaan dengan datangnya musim semi yang disebut perayaan Aikitu. Dalam festival ini akan dinobatkan raja baru atau penegasan kembali raja lama. Di momentum ini pula, bangsa Babilonia mengukuhkan kembali hubungannya dengan para dewa.

Namun, kini membuat resolusi tahun baru menjadi proses yang tak berkaitan dengan agama apa pun. Warga dunia umumnya membuatnya untuk perbaikan diri. Karena itu, resolusi tahun baru juga bukan tentang menjadi sempurna, melainkan bentuk komitmen kita pada suatu hal yang kita pedulikan dan akan meningkatkan kualitas kehidupan kita.

Lembaga survei Finder yang berbasis di New York, Amerika Serikat, memperkirakan 188,9 juta penduduk dewasa atau 74,02 persen populasi AS membuat resolusi tahun baru 2021. Makin muda usia, makin banyak pula yang membuat resolusi. Resolusi terbanyak umumnya menyangkut kesehatan, perbaikan diri, keuangan, keluarga, percintaan, dan karier.

Namun, dari jumlah penduduk yang membuat resolusi itu, hanya 74,72 persen yang yakin target resolusinya tercapai. Sebanyak 12,23 persen responden tidak yakin resolusi dapat dijalankan dan 13,06 persen responden berpikir resolusi itu dapat dicapai meski tidak yakin sepenuhnya.

Pola pikir

Kegagalan mencapai resolusi tahun baru jamak terjadi. Kegagalan tersebut sebagian besar disebabkan kurangnya kemauan, lupa, terlalu malas, ataupun yang paling umum menyalahkan pandemi Covid-19.

Penjejakan yang dilakukan melalui aplikasi kebugaran Strava terhadap 98,3 juta penggunanya menunjukkan mereka yang memiliki resolusi terkait kebugaran dan aktivitas fisik umumnya hanya mampu bertahan hingga 19 Januari. Jika di awal Januari pusat kebugaran banyak didatangi masyarakat, pada akhir Januari biasanya sudah sepi kembali.

Psikolog yang juga unsur pimpinan di Institut Terapi Perilaku Kognitif Beck, Judith S Beck, seperti dikutip The Psychology Today,2 Januari 2021, menyebut, ”Masyarakat sering menetapkan resolusi yang sama dari tahun ke tahun karena mereka tidak pernah menguasainya.” Bukan rendahnya komitmen atau kemauan yang menyebabkan gagalnya resolusi, melainkan kita sering kali terjebak dalam pola pikir keliru untuk mencapai tujuan itu.

David B Feldman, profesor di Departemen Psikologi Konseling di Universitas Santa Clara, California, AS, mengatakan, jebakan yang paling sering muncul dalam membuat resolusi tahun baru ialah menetapkan target resolusi yang membuat diri kita kewalahan.

Banyak orang umumnya membidik target terlalu tinggi dan tidak realistis mengingat resolusi ini dilakukan setahun sekali. Target tinggi memang akan membuat kita lebih fokus dan mengumpulkan energi lebih besar untuk mencapai sasaran tersebut. Namun, target tinggi itu juga menuntut keyakinan lebih besar bahwa kita mampu mencapai tujuan itu.

Akan tetapi, itu bukan berarti kita tidak boleh memiliki target resolusi yang besar. Hal yang diperlukan adalah memikirkan target besar itu secara berbeda, misalnya dengan memecahnya menjadi beberapa bagian. Cara ini akan menghindarkan kita dari kekecewaan atau kehilangan motivasi jika target kecil itu tidak tercapai sehingga memberi kita peluang untuk bangkit kembali dan mengelola target berikutnya sedikit demi sedikit.

Jen A Miller di The New York Times menulis, menentukan resolusi dengan target tepat adalah persoalan penting. Banyak resolusi gagal dipenuhi karena resolusi itu dibuat bukan atas kemauan diri sendiri, melainkan atas desakan atau tuntutan orang lain atau lingkungan, tidak jelas, serta tidak ada langkah realistis dalam mencapai target tersebut.

Antisipasi

Jebakan berikutnya yang sering muncul dalam mencapai resolusi adalah tidak mengantisipasi rintangan. Resolusi yang dibuat itu harus spesifik atau konkret, terukur, dapat dicapai, relevan, dan memiliki jangka waktu. Namun, ancaman atau tantangan yang bakal muncul saat resolusi itu dijalankan juga harus diantisipasi.

Menurut Beck, hambatan untuk mewujudkan resolusi itu bisa muncul mulai minggu pertama di bulan Januari atau tidak muncul sama sekali hingga tahun berganti lagi. Jika potensi rintangan tidak diantisipasi, maka kita akan mudah terjebak dalam kegagalan karena tidak mempersiapkan langkah alternatif untuk mencapai tujuan tersebut.

Hal lain yang bisa menghambat upaya mewujudkan resolusi adalah manusia cenderung berpikir untuk mendapatkan semua atau tidak sama sekali. Di satu sisi, pemikiran ini memang bisa memotivasi diri untuk mencapai target dengan sebaik-baiknya. Namun, jika gagal, bisa memicu kekecewaan yang dalam.

Banyak orang tidak berpikir bahwa meski hanya sebagian kecil capaian yang didapat atau tidak semua target bisa diperoleh, itu tetap menjadi pencapaian diri. Kita justru sering menyerang diri sendiri dan menganggap diri kita tidak pantas dengan target yang ditetapkan hingga akhirnya menyerah. Padahal, sedikit capaian itu seharusnya justru memotivasi diri untuk terus berbuat demi mencapai target awal.

Untuk mengatasi pikiran harus mendapatkan semuanya atau tidak sama sekali itu, Feldman menyarankan untuk tidak menganggap resolusi kita sebagai tujuan kaku, tetapi memiliki spektrum. Daripada menargetkan capaian 100 poin, mungkin kita bisa membuatnya menjadi 80-100. Rentang ini membuat Anda merasa lebih nyaman untuk mencapai target tersebut.

Tantangan lain yang sering muncul dalam menuntaskan resolusi tahun baru adalah menyalahkan diri sendiri saat kita tidak bisa konsisten menjalankan rencana yang sudah dibuat. Jika Anda berencana diet untuk tidak makan gorengan, tetapi satu waktu Anda lupa memakan gorengan, maka tak perlu menganggap diri lemah atau bodoh. Sikap ini justru membuat kita tidak peduli dengan rencana awal hingga akhirnya malah makan gorengan terus dan berlebihan.

”Sikap keras terhadap diri sendiri tidak hanya tidak adil dan kasar, tetapi juga bukan resep untuk menjadi sukses. Jika kita mengatakan bahwa diri kita bodoh, tidak kompeten, atau lemah karena tidak memiliki tekad yang kuat, maka itu adalah cara singkat untuk menyimpulkan bahwa tidak ada gunanya mencoba,” tambah Feldman.

Menghadapi situasi itu, Beck memberikan tips untuk mengasihi diri sendiri, tidak menghakimi kekurangan atau kegagalan diri. Tips itu adalah dengan meletakkan diri kita sebagai orang lain saat ada teman atau saudara melakukan kesalahan seperti yang kita lakukan sekarang. Apakah kita akan bersikap kasar dan menyalahkan mereka seperti kita menyalahkan diri sendiri atau justru kita berusaha realistis dan menahan diri?

Meski terkesan klise, satu hal perlu kita tanamkan dalam diri saat mencapai resolusi adalah tidak ada manusia yang sempurna. Apa pun resolusi tahun baru yang kita tetapkan, tetap ada potensi gagal di beberapa bagian. Namun, tak perlu menyalahkan diri atas kegagalan tersebut. Cukup sadari bahwa kita manusia biasa, perbaiki diri dan kemudian melangkah maju untuk mencapai target resolusi itu kembali.

Foto: 3

Foto 1

AFP/DAVID GRAY

Pertunjukan kembang api mewarnai langit malam Tahun Baru di kawasan Harbour Bridge dan Opera House (kiri) yang ikonik di Sydney, Australia, Jumat (31/12/2021).

Foto 2

AP/ANDREW MEDICHINI

Paus Fransiskus memimpin Misa Hari Raya St Mary di awal tahun 2022 di Basilika St Petrus di Vatikan, Sabtu (1/1/2022).

Foto 3

AP PHOTO/MATT DUNHAM

Kembang api diluncurkan untuk menandai dimulainya tahun 2022 di Jembatan Milenium yang melintasi Sungai Thames dengan latar belakang kubah Katedral St Paul di London, Inggris, Sabtu (1/1/2022).

  1. Penggunaan artikel wajib mencantumkan kredit atas nama penulis dengan format: ‘Kompas/Penulis Artikel’.
  2. Penggunaan artikel wajib mencantumkan sumber edisi dengan format: ‘Kompas, tanggal-bulan-tahun’.
  3. Artikel yang digunakan oleh pelanggan untuk kepentingan komersial harus mendapatkan persetujuan dari Kompas.
  4. Artikel tidak boleh digunakan sebagai sarana/materi kegiatan atau tindakan yang melanggar norma hukum, sosial, SARA, dan mengandung unsur pelecehan/ pornografi/ pornoaksi/ diskriminasi.
  5. Pelanggan tidak boleh mengubah, memperbanyak, mengalihwujudkan, memindahtangankan, memperjualbelikan artikel tanpa persetujuan dari Kompas.

Suggestion