Bangun Persaudaraan dan Solidaritas pada Kaum Miskin * Liputan Natal 2021

Bangun Persaudaraan dan Solidaritas pada Kaum Miskin * Liputan Natal 2021

Halaman 1

KOMPAS edisi 26 Desember 2021

Halaman: 01

Penulis: RAZ; MHD; SAM; FLO; CAS; TAM; WSI; HRS; FRN; COK; RTG

Bangun Persaudaraan dan Solidaritas pada Kaum Miskin * Liputan Natal 2021

Bangun Persaudaraan dan Solidaritas pada Kaum Miskin

Paus Fransiskus mengajak elite dan warga dunia untuk menunjukkan solidaritas terhadap kaum miskin, orang terpinggirkan, dan kelompok yang paling terdampak pandemi Covid-19.

Dalam pesan Natal, Urbi et Orbi atau Pesan untuk Kota dan Dunia, yang disampaikan pada Sabtu (25/12/2021) di Vatikan, Paus Fransiskus mengajak elite dan warga dunia mengedepankan dialog dan mengingat mereka yang paling menderita.

Sementara itu, pada misa malam Natal di Basilika Santo Petrus, Jumat (24/12), Paus berpesan agar umat menunjukkan solidaritas terhadap fakir miskin, kaum papa, dan kelompok yang paling terimbas pandemi.

Paus menyampaikan, uluran tangan sekecil apa pun adalah solidaritas yang diperlukan dalam menghadapi pandemi.

Tema Natal nasional tahun ini, ”Cinta Kasih Kristus Menggerakkan Persaudaraan”, sejalan dengan pesan Paus tersebut. Ketua Umum Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr Ignatius Kardinal Suharyo mengatakan, persaudaraan yang erat dibutuhkan agar bangsa semakin cepat keluar dari dampak pandemi.

Semangat dan inspirasi Natal diharapkan tidak berhenti hanya pada bulan Desember, tetapi menginspirasi gerakan sepanjang sejarah untuk terus membangun persaudaraan.

”Kita dituntut oleh tanggung jawab sejarah untuk merawat dan mengembangkan persaudaraan. Para pendiri bangsa mewariskan sesuatu yang sangat mulia, yaitu semangat cinta Tanah Air. Selain itu, bangsa kita memiliki watak kepedulian,” ujar Suharyo.

Ketua Umum Persatuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pendeta Gomar Gultom mengatakan, Natal tahun ini masih dirayakan di tengah keprihatinan karena pandemi belum berakhir.

Karena itu, perayaan Natal diupayakan sesederhana mungkin. Aksi-aksi sosial diharapkan menjadi bagian hakiki dari perayaan Natal, bukan sekadar pelengkap. ”Natal adalah semangat kepedulian, sama seperti Allah yang peduli kepada manusia dan merendahkan diri agar manusia mampu menghampiri-Nya,” ujarnya.

Berlangsung damai

Perayaan Natal di sejumlah daerah di Indonesia berlangsung dengan damai. Gereja dan umat yang menjalankan ibadah Natal menerapkan protokol kesehatan (prokes) ketat untuk mencegah penularan Covid-19.

Gereja-gereja membatasi umat yang hadir maksimal 50 persen dari kapasitas yang ada. Suhu tubuh umat juga diukur dan wajib menjaga jarak. Bahkan, sejumlah gereja menerapkan sistem registrasi untuk memastikan batas kuota umat tetap terjaga di setiap sesi peribadatan.

Ibadah juga dipecah ke dalam beberapa sesi agar umat tidak menumpuk pada saat bersamaan. Di Gereja Katedral Medan, misalnya, ribuan umat hadir di tiga sesi dengan protokol kesehatan ketat. Petugas tak henti mengingatkan umat untuk menjalankan prokes.

Sementara itu, perayaan Natal di berbagai belahan dunia tampak lebih semarak meski tetap dilakukan dengan prokes yang ketat. Beberapa negara yang mengalami lonjakan kasus Covid-19 akibat varian baru Omicron lebih memilih membatasi ibadah Natal secara tatap muka.

Menghindari dialog

Dalam pesannya yang disampaikan di hadapan ribuan pemeluk Katolik yang ada di lapangan Santo Petrus, Paus mengatakan, dewasa ini, ada kecenderungan banyak pihak menghindari dialog. Di tingkat masyarakat, orang-orang cenderung lebih individualistis.

”Di aras internasional, ada risiko menghindari dialog dan mendorong pengambilan jalan pintas. Padahal, hanya jalan dialog yang bisa mengarah pada resolusi konflik yang menguntungkan semua,” tutur Paus yang tahun ini kembali menyampaikan Urbi et Orbi dari balkon tengah luar Basilika Santo Petrus, seperti sebelum pandemi.

Tahun lalu, karena pandemi, Paus menyampaikan Urbi et Orbi dari salah satu ruangan di kompleks Vatikan di hadapan sedikit orang yang saling menjaga jarak.

Menurut Paus, konflik tak kunjung reda di berbagai penjuru Bumi. Di berbagai tempat, konflik, krisis, dan ketidaksepahaman terus meningkat.

Pertikaian yang berkepanjangan itu memicu penderitaan di banyak pihak. Paus pun mengajak warga dunia mengingat konflik dan perang yang saat ini terjadi di berbagai belahan dunia, membawa banyak korban dan pengungsi yang tak terhingga. Ia mencontohkan beberapa konflik dan perang, seperti yang terjadi di Suriah, Irak, dan Yaman.

Paus juga mengajak warga dunia mengingat konflik Israel-Palestina yang belum menunjukkan tanda-tanda akan selesai, serta memperhatikan kondisi Betlehem, yang saat ini tengah mengalami kesulitan ekonomi akibat pandemi.

Tak lupa, Paus mengajak dunia melihat ke Lebanon yang tengah ditekan krisis, serta Afghanistan yang membutuhkan bantuan setelah lebih dari 40 tahun dilanda perang. Ajakan mengingat warga yang terdampak perang juga diarahkan ke Myanmar, di mana intoleransi dan kekerasan semakin sering terjadi.

Secara khusus, Paus menyebut sejumlah negara dan kawasan di Afrika yang tengah dilanda konflik, seperti Etiopia dan negara di sekitar Sahel. Selain perang saudara, warga di kawasan itu menjadi sasaran teror. Sementara, di bagian lain Afrika, warga menderita karena tekanan ekonomi.

Harapan untuk menyudahi konflik juga disampaikan dalam pesan Natal di Papua. Pastor Paul Tumayang Tandilintin dalam ibadah malam Natal di Gereja Santo Petrus dan Yohanes Argapura, Kota Jayapura, Papua, mengingatkan agar Natal dijadikan momentum bagi umat Kristiani di Papua untuk merekatkan rasa persaudaraan. ”Mari kita tetap hidup berdampingan sebagai saudara,” ujarnya.

(AFP/REUTERS/RAZ/MHD/SAM/FLO/CAS/TAM/WSI/HRS/FRN/COK/RTG)

BACA JUGA HLM 2 DAN E-PAPER D

Foto:

AFP/VATICAN MEDIA

Paus Fransiskus tiba di balkon tengah Basilika Santo Petrus, Vatikan, untuk menyampaikan Urbi et Orbi atau Pesan untuk Kota dan Dunia, Sabtu (25/12/2021). Dalam pesannya, Paus antara lain mengajak warga dunia mengedepankan dialog dan mengingat mereka yang menderita.

  1. Penggunaan artikel wajib mencantumkan kredit atas nama penulis dengan format: ‘Kompas/Penulis Artikel’.
  2. Penggunaan artikel wajib mencantumkan sumber edisi dengan format: ‘Kompas, tanggal-bulan-tahun’.
  3. Artikel yang digunakan oleh pelanggan untuk kepentingan komersial harus mendapatkan persetujuan dari Kompas.
  4. Artikel tidak boleh digunakan sebagai sarana/materi kegiatan atau tindakan yang melanggar norma hukum, sosial, SARA, dan mengandung unsur pelecehan/ pornografi/ pornoaksi/ diskriminasi.
  5. Pelanggan tidak boleh mengubah, memperbanyak, mengalihwujudkan, memindahtangankan, memperjualbelikan artikel tanpa persetujuan dari Kompas.

Suggestion